Nyeput: Cerminan Masa Depan dari Karya Masa Lalu
Assalamualaikum wr. Wb
Melanjutkan perjalanan saya kemarin dalam mencari naskah kuno, saya pun mencoba melakukan sebuah tradisi yang disebut "Nyeput". Nyeput sendiri menurut tuturan masyarakat yang pernah saya dengar merupakan prosesi untuk melihat kehidupan (masa lalu/pengalaman, yang sedang dialami, dan yang akan terjadi) dengan mengaitkannya dengan sebuah naskah kuno. Nyeput dilakukan dengan seorang pembaca naskah. Seorang yang ingin melakukan tradisi ini awalnya akan disuruh memilih sebuah halaman dalam naskah tersebut, lalu pembaca naskah akan membacakan isi naskah yang didapatkan.
Perjalanan kami lakukan pada hari rabu, 13 November 2019. Bersumber dari informasi yang disampaikan teman kami bahwa ada seorang penggiat naskah bernama Mamiq Ufiq yang bisa melakukan prosesi tersebut yang tinggal di Desa Kuripan, Gerung, Lombok Barat. Saya dan ketiga teman saya berkumpul setelah dzuhur di Bundaran Giri Menang Square Gerung. Namun, dikarenakan hujan besar yang tiba-tiba turun, kami akhirnya menunggu hujan reda sampai sekitar pukul 13:30. Kamipun berangkat ditemani gerimis-gerimis kecil yang coba kami terjang.
Sesampainya disana kami menjumpai rumah Mamiq Ufiq tampak sepi. Menurut keterangan warga yang kami jumpai, beliau sedang melaksanakan kegiatan Nikahan (perkawinan). Setelah agak lama menunggu, sang istri dari Mamiq Ufiq pulang bersama anaknya dan menginformasikan kepada kami bahwa beliau akan pulang besok pagi. Kami yang agak kecewa mencoba menanyakan kembali apakah beliau bisa ditemui pagi-pagi sebelum berangkat kuliah dan dengan menggembirakan sang istri mengatakan bisa lalu memberikan kami kontak beliau.
Dengan perasaan campur aduk kami pulang.
Saya yang merasa masih belum puas, sesampainya di rumah kembali mencari lokasi yang bisa kami kunjungi hari itu juga. Saya memang awalnya berniat ikut bersama teman-teman kelas menuju Lombok Utara dengan narasumber yang sudah pasti. Namun karna mempertimbangkan beberapa hal terutama restu ibu yang tidak didapatkan, saya akhirnya mencari alternatif lain yang lebih dekat. Akhirnya setelah mencoba bertanya kepada teman, saya mendapatkan informasi tentang seorang penggiat naskah yang tinggal di Mapak. Teman saya juga menawarkan diri untuk mengantar dengan alasan balas budi setelah saya membantunya membuat blog tugas. Tanpa bersikap riak, penulis hanya ingin memberitaukan bahwa kebaikan akan selalau terbalas dengan kebaikan pula.
Tanpa fikir panjang, saya langsung membujuk teman saya yang hampir menyerah untuk kembali mencoba. Saya yang bertempat tinggal di dusun Bilatepung langsung pergi menjemputnya ke Penarukan lalu bertemu teman di Jempong dan berlanjut menuju Mapak. Sesampainya di Mapak, kami disambut Amaq Wasiah yang seorang pembaca naskah.
Setelah sedikit mengobrol, kami langsung melakukan tradisi Nyeput karna beliau sendiri sudah tau alasan kami kemari. Pertama beliau menyodorkan sebuah naskah dan menyuruh kami membukanya secara acak, atau dengan kata lain kita sendiri yang memilih halamannya (dalam bahasa sasak disebut bedemak). Kata beliau, nama takepan yang beliau gunakan adalah "Serat Muhamad".
Halaman yang terbuka dan baris yang kita tunjuk kemudian akan dibacakan. Pada saat itu saya mendapatkan tembang Sinom. Sinom sendiri menurut beliau berasal dari bahasa sansekerta yang bermakna muda
Sinom berjumlah 9 cerek, 1 bait. Maksudnya disini, tembang tersebut berisi 9 poin. Poin-poin yang saya dapat antara lain.
1. Suka berteman dengan orang besar
2. Sering mengunjungi orang besar/berpangkat tinggi
3. Biarpun banyak orang di depan, tapi mau lebih di depan lagi/di depan orang yang di depan.
4. Mau di depan saja
5. Meskipun itu Abdul Muthalib, tetap mau di depan
6. Meski ukurannya seorang ulama, tapi tidak takut untuk belajar padanya
7. Sering bertanya mencari orang yang besar dengan ditemani atau membawa seorang kawan
8. Bahkan jika ukurannya ada Baginda Nabi Muhammad, ia ingin menemuinya
9. Tujuannya tidak akan hilang sebelum tercapai
Menurut saya ada beberapa poin yang sesuai dengan diri saya meskipun sedikit. Salah satunya untuk beberapa hal, saya ingin menemui orang-orang yang saya kagumi dalam hal ini orang besar atau terkenal. Dalam suatu kesempatan saya pernah berhasil melakukannya dengan usaha dan tidak gampang menyerah. Memang jika belum tercapai hal baik yang saya idamkan, saya belum bisa tenang dan selalu mencari cara lain untuk mendapatkannya. Namun selebihnya saya belum mengena. Seperti selalu ingin di depan, padahal saya orang yang cenderung lebih menyembunyikan diri dan tidak mau repot. Karna memang seperti yang sudah saya katakan di atas bahwa bisa jadi hal ini sesuatu yang sudah kita alami, yang sedang kita alami, dan yang akan kita alami.
Namun meski begitu saya tidak percaya sepenuhnya dan seperti kata Amaq Wasiah, semua kembali kepada diri sendiri bagaimana kita mengartikan poin-poin tersebut. Mengambil hal-hal yang baik dan merubah diri dari hal-hal yang buruk. Ini sesuai dengan pendekatan pragmatik, yaitu pembacalah yang bertugas sebagai penangkap dan pemberi makna dari karya sastra. Pembaca merupakan penghidup karya sastra tersebut dengan pemaknaan-pemaknaan untuk mewujudkan fungsi resepsi agar tujuan karya sastra sebagai pemberi manfaat dapat tersampaikan dan dipahami tanpa batas.
Sedikit cerita tentang perjalanan pulang. Saat kami akan pulang, teman saya mengatakan bahwa desanya mendapat giliran pemadaman listrik malam ini. Alhasil ketika kami tiba di rumahnya, keadaan begitu gelap. Saya bertamu sekedar untuk shalat magrib saja, tidak makan karena ada undangan maulid nabi. Dalam perjalanan pulang keadaan jalan sangat gelap karna tidak ada lampu penerangan dan sangat sedikit kendaraan berlalu lalang. Sehingga pandangan saya sangat terbatas.
Sekian kiranya tulisan yang bisa saya tuliskan berkaitan dengan pengalaman saya dalam nyeput. Kurang lebihnya mohon dimaklumi.
Wassalamu'alaikum wr. Wb
Melanjutkan perjalanan saya kemarin dalam mencari naskah kuno, saya pun mencoba melakukan sebuah tradisi yang disebut "Nyeput". Nyeput sendiri menurut tuturan masyarakat yang pernah saya dengar merupakan prosesi untuk melihat kehidupan (masa lalu/pengalaman, yang sedang dialami, dan yang akan terjadi) dengan mengaitkannya dengan sebuah naskah kuno. Nyeput dilakukan dengan seorang pembaca naskah. Seorang yang ingin melakukan tradisi ini awalnya akan disuruh memilih sebuah halaman dalam naskah tersebut, lalu pembaca naskah akan membacakan isi naskah yang didapatkan.
![]() |
| Jalan menuju rumah Mamiq Ufiq |
Perjalanan kami lakukan pada hari rabu, 13 November 2019. Bersumber dari informasi yang disampaikan teman kami bahwa ada seorang penggiat naskah bernama Mamiq Ufiq yang bisa melakukan prosesi tersebut yang tinggal di Desa Kuripan, Gerung, Lombok Barat. Saya dan ketiga teman saya berkumpul setelah dzuhur di Bundaran Giri Menang Square Gerung. Namun, dikarenakan hujan besar yang tiba-tiba turun, kami akhirnya menunggu hujan reda sampai sekitar pukul 13:30. Kamipun berangkat ditemani gerimis-gerimis kecil yang coba kami terjang.
![]() |
| Rumah Mamiq Ufiq |
Sesampainya disana kami menjumpai rumah Mamiq Ufiq tampak sepi. Menurut keterangan warga yang kami jumpai, beliau sedang melaksanakan kegiatan Nikahan (perkawinan). Setelah agak lama menunggu, sang istri dari Mamiq Ufiq pulang bersama anaknya dan menginformasikan kepada kami bahwa beliau akan pulang besok pagi. Kami yang agak kecewa mencoba menanyakan kembali apakah beliau bisa ditemui pagi-pagi sebelum berangkat kuliah dan dengan menggembirakan sang istri mengatakan bisa lalu memberikan kami kontak beliau.
Dengan perasaan campur aduk kami pulang.
Saya yang merasa masih belum puas, sesampainya di rumah kembali mencari lokasi yang bisa kami kunjungi hari itu juga. Saya memang awalnya berniat ikut bersama teman-teman kelas menuju Lombok Utara dengan narasumber yang sudah pasti. Namun karna mempertimbangkan beberapa hal terutama restu ibu yang tidak didapatkan, saya akhirnya mencari alternatif lain yang lebih dekat. Akhirnya setelah mencoba bertanya kepada teman, saya mendapatkan informasi tentang seorang penggiat naskah yang tinggal di Mapak. Teman saya juga menawarkan diri untuk mengantar dengan alasan balas budi setelah saya membantunya membuat blog tugas. Tanpa bersikap riak, penulis hanya ingin memberitaukan bahwa kebaikan akan selalau terbalas dengan kebaikan pula.
![]() |
| Perjalanan menjemput teman |
Tanpa fikir panjang, saya langsung membujuk teman saya yang hampir menyerah untuk kembali mencoba. Saya yang bertempat tinggal di dusun Bilatepung langsung pergi menjemputnya ke Penarukan lalu bertemu teman di Jempong dan berlanjut menuju Mapak. Sesampainya di Mapak, kami disambut Amaq Wasiah yang seorang pembaca naskah.
![]() |
| Amaq Wasiah |
Setelah sedikit mengobrol, kami langsung melakukan tradisi Nyeput karna beliau sendiri sudah tau alasan kami kemari. Pertama beliau menyodorkan sebuah naskah dan menyuruh kami membukanya secara acak, atau dengan kata lain kita sendiri yang memilih halamannya (dalam bahasa sasak disebut bedemak). Kata beliau, nama takepan yang beliau gunakan adalah "Serat Muhamad".
![]() |
| Naskah Serat Muhamad |
Halaman yang terbuka dan baris yang kita tunjuk kemudian akan dibacakan. Pada saat itu saya mendapatkan tembang Sinom. Sinom sendiri menurut beliau berasal dari bahasa sansekerta yang bermakna muda
Sinom berjumlah 9 cerek, 1 bait. Maksudnya disini, tembang tersebut berisi 9 poin. Poin-poin yang saya dapat antara lain.
1. Suka berteman dengan orang besar
2. Sering mengunjungi orang besar/berpangkat tinggi
3. Biarpun banyak orang di depan, tapi mau lebih di depan lagi/di depan orang yang di depan.
4. Mau di depan saja
5. Meskipun itu Abdul Muthalib, tetap mau di depan
6. Meski ukurannya seorang ulama, tapi tidak takut untuk belajar padanya
7. Sering bertanya mencari orang yang besar dengan ditemani atau membawa seorang kawan
8. Bahkan jika ukurannya ada Baginda Nabi Muhammad, ia ingin menemuinya
9. Tujuannya tidak akan hilang sebelum tercapai
![]() |
| Tembang sinom |
Menurut saya ada beberapa poin yang sesuai dengan diri saya meskipun sedikit. Salah satunya untuk beberapa hal, saya ingin menemui orang-orang yang saya kagumi dalam hal ini orang besar atau terkenal. Dalam suatu kesempatan saya pernah berhasil melakukannya dengan usaha dan tidak gampang menyerah. Memang jika belum tercapai hal baik yang saya idamkan, saya belum bisa tenang dan selalu mencari cara lain untuk mendapatkannya. Namun selebihnya saya belum mengena. Seperti selalu ingin di depan, padahal saya orang yang cenderung lebih menyembunyikan diri dan tidak mau repot. Karna memang seperti yang sudah saya katakan di atas bahwa bisa jadi hal ini sesuatu yang sudah kita alami, yang sedang kita alami, dan yang akan kita alami.
Namun meski begitu saya tidak percaya sepenuhnya dan seperti kata Amaq Wasiah, semua kembali kepada diri sendiri bagaimana kita mengartikan poin-poin tersebut. Mengambil hal-hal yang baik dan merubah diri dari hal-hal yang buruk. Ini sesuai dengan pendekatan pragmatik, yaitu pembacalah yang bertugas sebagai penangkap dan pemberi makna dari karya sastra. Pembaca merupakan penghidup karya sastra tersebut dengan pemaknaan-pemaknaan untuk mewujudkan fungsi resepsi agar tujuan karya sastra sebagai pemberi manfaat dapat tersampaikan dan dipahami tanpa batas.
Sedikit cerita tentang perjalanan pulang. Saat kami akan pulang, teman saya mengatakan bahwa desanya mendapat giliran pemadaman listrik malam ini. Alhasil ketika kami tiba di rumahnya, keadaan begitu gelap. Saya bertamu sekedar untuk shalat magrib saja, tidak makan karena ada undangan maulid nabi. Dalam perjalanan pulang keadaan jalan sangat gelap karna tidak ada lampu penerangan dan sangat sedikit kendaraan berlalu lalang. Sehingga pandangan saya sangat terbatas.
![]() |
| Suasana jalan yang gelap |
![]() |
| Hidangan Maulid Nabi |
Sekian kiranya tulisan yang bisa saya tuliskan berkaitan dengan pengalaman saya dalam nyeput. Kurang lebihnya mohon dimaklumi.
Wassalamu'alaikum wr. Wb










Lain kali plis gausah post foto makanan juga, yang baca artikel jadi gimna yaz malem malem baca, trus lagi laper lapernya, tolonglah ya. Okedeh, subhanAllah artikelnya uniq.
BalasHapusMantap
BalasHapusWaowwww
BalasHapusSemoga bermanfaat
BalasHapusWow artikelnya sangat bermanfaat bagi kami generasi muda
BalasHapusLebay
HapusSemoga artikelnya bermanfaat bagi generasi berikutnya
BalasHapusSudah bagus Artikelnya, tapi untuk Foto makanan maulidnya jangan di post Biar pembacanya Nggak Tergiurrr😎😂
BalasHapusKomentar ini mengajarkan ku arti sebuah kenyamanan, keamanan, ketertiban, kemanusiaan, keteraturan, kerapian, kerajinan, kesopanan, kebersihan, keberanian, kekeliruan, keharmonisan, kesusilaan, kehausan, kelaparan, kemungkaran, kezoliman, keberpihakan, kecurangan, kepintaran, kebodohan, ketepatan, kelincahan, kegesitan, kekuatan, kemusyawaratan, kebablasan, kerinduan, kecintaan, kedinginan, kepanasan, kesiangan, ketindihan, ketiduran, kemasyarakatan, kejombloan, kepolosan, kelicikan, kekerabatan, kekeluargaan, keberlangsungan, kemaslahatan, kesehatan, kesakitan, ketekunan, kemanusiaan, keharuman, kebauan, kelemahan, kelebihan, kegagalan, keberhasilan, kepergian, keberangkatan, kegagapan, kecepatan, kelancaran, kemerosotan, kepercayaan, kesiapan, kesigapan, kebangkrutan, kesuksesan, kelonggaran, kecapekan, kelelahan, kecurigaan, kehalusan, kekerasan, keceriaan, kemurungan, kesedihan, keselamatan, kekonyolan, kelucuan, keseriusan, kebangkitqn, kehancuran, kesengsaraan, kedamaian, kemapanan, kegensutan, kelangsingan, kekecilan, kebesaran, keberadaan, keberagaman, kebohongan, kesurupan, kesemutan, keindahan, kejelakan, keterkaitan, keterikatan, kesewenang-wenangan, keteraturan, kecolongan, ketampanan, kesempurnaan cintaaaaa teh kotakk
HapusYusuf 2313 November 2019 21.08
BalasHapusArtikel ini mengajarkan ku arti sebuah kenyamanan, keamanan, ketertiban, kemanusiaan, keteraturan, kerapian, kerajinan, kesopanan, kebersihan, keberanian, kekeliruan, keharmonisan, kesusilaan, kehausan, kelaparan, kemungkaran, kezoliman, keberpihakan, kecurangan, kepintaran, kebodohan, ketepatan, kelincahan, kegesitan, kekuatan, kemusyawaratan, kebablasan, kerinduan, kecintaan, kedinginan, kepanasan, kesiangan, ketindihan, ketiduran, kemasyarakatan, kejombloan, kepolosan, kelicikan, kekerabatan, kekeluargaan, keberlangsungan, kemaslahatan, kesehatan, kesakitan, ketekunan, kemanusiaan, keharuman, kebauan, kelemahan, kelebihan, kegagalan, keberhasilan, kepergian, keberangkatan, kegagapan, kecepatan, kelancaran, kemerosotan, kepercayaan, kesiapan, kesigapan, kebangkrutan, kesuksesan, kelonggaran, kecapekan, kelelahan, kecurigaan, kehalusan, kekerasan, keceriaan, kemurungan, kesedihan, keselamatan, kekonyolan, kelucuan, keseriusan, kebangkitqn, kehancuran, kesengsaraan, kedamaian, kemapanan, kegensutan, kelangsingan, kekecilan, kebesaran, keberadaan, keberagaman, kebohongan, kesurupan, kesemutan, keindahan, kejelakan, keterkaitan, keterikatan, kesewenang-wenangan, keteraturan, kecolongan, ketampanan, kesempurnaan cintaaaaa teh kotakk